Jika kita pernah menyaksikan film dokumenter tentang sifat dan kebiasaan beberapa hewan, maka tidak asing bagi kita mendengar kata “Salmon”. Ikan salmon adalah ikan laut yang memiliki kebiasaan unik diantara ikan-ikan lainnya, salmon memiliki sifat Katadromus yaitu bermigrasi dari air laut menuju air tawar untuk berkembang biak. Hal ini tentu saja membuat Salmon istimewa karena pada umumnya ikan laut tidak tahan dengan kondisi air tawar yang mempunyai salinitas rendah, sebaliknya ikan air tawar pun tidak tahan dengan kondisi air laut.
Salmon akan bermigrasi melawan arus sungai dan menantang bahaya karena di sana para beruang sudah menanti mangsa favorit mereka. Setelah bertelur, induk-induk salmon akan membiarkan telur tersebut menetas sendiri. Tentu saja telur yang ditinggalkan akan menjadi santapan empuk burung sungai. Namun sebagian dari telur-telur itu akan selamat dan kembali ke lautan untuk melanjutkan hidup.Nah, suatu hari ketika anak salmon yang baru saja kembali ke lautan mencari induknya. Maksud pencarian ini adalah untuk mengajukan beberapa pertanyaan dan protes pada induknya yang dulu meninggalkannya dalam bahaya. Setelah bertemu dengan induknya, anak salmon ini langsung bertanya.
“Ibu, kenapa kau meninggalkan aku ketika aku masih telur? Padahal di sana banyak sekali pemangsa dari sungai dan dari darat. Teman-temanku tidak ada yang selamat” protes salmon kecil itu.
Ibunya menjawab: “Anakku, semua ikan jenis kita mengalami hal yang sama seperti dirimu, yang cerdaslah yang akan bertahan hidup.”
“Tapi, mengapa harus dihadapkan dengan sejumlah bahaya bu? Apakah tidak sebaiknya para orang tua melatih kecerdasan anaknya dengan hal-hal yang tidak membahayakan?” protesnya lagi.
Dengan bijak ibunya menjawab: “karena itulah kita menjadi jenis ikan yang banyak dicari, karena kita berbeda”.
Salmon kecil itu terdiam, dia berusaha memecahkan misteri apakah yang ada dibalik kata-kata ibunya.
Dalam kehidupan pun sama, alam diciptakan selalu dengan lawannya. Pepatah arab kuno mengatakan “sesuatu diketahui dengan kebalikannya”, jika kita ingin mengetahui siang maka ketahuilah malam, jika kita ingin mengetahui putih maka ketahuilah hitam, jika kita ingin hidup dalam kedamaian maka ketahuilah bahaya, dan seterusnya.
Begitu pula halnya dengan kebenaran, kesuksesan dan masa depan. Mengetahui sesuatu tanpa kebalikannya akan membuat kita terperosok ke dalam jurang yang sangat dalam. Hidup bahagia dalam keberhasilan yang terus menerus membuat kita menjadi orang yang kerdil, kegagalan yang dianggap keberhasilan adalah sesuatu yang aneh dan melahirkan kesendirian. Seseorang yang menginginkan keberhasilan dalam hidup setidaknya harus merasakan kegagaln dan berusaha memahami kegagalannya tersebut.
Tomas Alfa Edison mengatakan “saya tidak mengatakan bahwa saya telah mengalami kegagalan 1000 kali, namun saya akan mengatakan bahwa saya didukung 1000 jalan untuk mencapai keberhasilan”. Inilah paradigma sebenarnya tentang arti kata kegagalan, yang dituntut ketika kita gagal adalah sebuah inovasi. Mengerjakan sesuatu tanpa inovasi adalah kegagalan itu sendiri, kita mengetahui kegagalan namun masih bertahan dengan cara dan perangkat yang menyebabkan kegagalan maka hasilnya pun adalah kegagalan yang sama. Nabi Muhammad SAW bersabda:
“tidak layak seorang mukmin terperosok ke dalam lubang yang sama”
Artinya bahwa seseorang yang pernah terperosok ke dalam lubang, tidak akan terperosok untuk kedua kalinya karena dia telah mengetahui bahwa di sana terdapat lubang yang membahayakan, sehingga yang dituntut adalah upaya untuk menghindari lubang tersebut dengan cara membuat jembatan atau menimbun lubang itu. Inilah inovasi, menggunakan hal-hal yang berbeda untuk melewati jalan yang sama. Seseorang yang memilih jalan lain untuk menghindari lubang pasti akan menemui bahaya lainnya karena kegagalan akan selalui mengikuti setiap langkah menuju keberhasilan kita. Itu adalah sebuah kepastian.
Kegagalan membuat inovasi, kegagalan telah menjadikan kehidupan ini terus berkembang, kegagalan pula yang membuat kita tetap menjadi manusia yang dicintai. Woody Allen mengatakan “Jika kau tidak pernah mengalami kegagalan, itu tandanya kau tidak pernah melakukan hal-hal yang inovatif”. Kegagalan yang difahami sebagai salah satu bekal penting untuk mencapai keberhasilan merupakan perangsang manusia untuk berkembang, kegagalan sejati adalah tidak melakukan sesuatu karena takut gagal. Jadi, mulailah melakukan sesuatu, ketika gagal maka lakukanlah cara berbeda untuk menghapuskan kegagalan itu, sehingga kita dapat menemukan indahnya keberhasilan karena kita telah mengetahui kebalikannya, yaitu kegagalan.
“Jika kau tidak pernah melangkahkan kaki dari pintumu,
kau tidak akan pernah tahu apa yang akan kau alami”
(Bilbo Baggins – The Lord of The Ring)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar