Jumat, 24 Juni 2011

Pengen Kaya, Ya Kaya Aja....

Dahulu ada sebuah kisah tentang seorang Ulama yang terkenal dengan kezuhudannya.
Sang ulama tinggal di pinggiran kota baghdad, semua orang telah mengetahui ihwal ulama tersebut.

Berita tentang ulama itu akhirnya sampai juga kepada seorang pemuda lajang yang sedang bersemangat menuntut ilmu, pemuda itu sangat tertarik untuk belajar tentang hakikat zuhud kepada ulama yang terkenal itu.


Segera pemuda itu merencanakan perjalanan ke baghdad, bekal dipersiapkan dan pertanyaan-pertanyaan pun telah di tulis untuk diajukan kepada ulama calon gurunya itu. akhirnya berangkatlah pemuda itu dengan hati yang gembira dan perasaan yang beraduk dengan penasaran. "Seperti apakah ulama zuhud yang terkenal itu...?" pikirnya.

Bertanya disetiap simpang jalan, berlari kecil mengejar sesorang jika ia melihat seorang berpakaian seperti seorang ahli ibadah, bertanya-tanya dalam hati dan tentu saja beristirahat ketika ia lelah. itulah yang dilakukannya diperjalanan.

Tibalah pemuda itu disebuah pasar di tepi kota.
Pemuda itu bertanya pada seorang pedagang: "Pak, apakah bapak tahu di mana rumah syaikh Hasan Al-Bashri?"
Pedagang itu menjawab: "Hampir semua orang di sini tahu tentang beliau, Rumahnya di ujung belokan sebelah kanan jalan".

Pemuda itu langsung bergegas menuju alamat yang pedagang tadi sebutkan, dan betapa terkejutnya ketika ia melihat sebuah rumah yang sangat besar dengan pagar yang tinggi lengkap dengan penjaga dan pos satpamnya (kira-kira gitu lah kalo ngeliat rumah-rumah di Pondok Indah mah, hehe).

Pemuda itu bergumam: "masa iya seorang zuhud mempunyai rumah sebesar ini dengan para pembantu yang banyak? ah, jangan-jangan aku ditipu oleh orang-orang yang menyebarkan berita tentangnya". pemuda itu mulai ragu, ia membalikkan badannya berniat ingin pulang.

Ketika baru saja melangkahkan kakinya, seorang kusir memanggilnya.
Kusir: "Hai Pemuda, apakah engkau ingin bertemu dengan Syaikh Hasan Al-Bashri?"
Pemuda: "Tadinya aku berharap demikian, aku ingin sekali belajar tentang zuhud kepadanya, tapi setelah aku melihat apa yang dia punya, harta yang melimpah dan pengawal serta pembantu rumahnya yang banyak, lebih baik aku pulang saja".

Kusir: "Tuan memang sedang tidak ada. Tapi, Biarlah aku mengantarmu sambil kita berjalan-jalan dahulu mengelilingi kota baghdad agar perjalananmu sedikit tak sia-sia"
Pemuda: "Baiklah, Terima kasih tumpangannya".
Kusir: "Silakan naik, di dekat tempat duduk ada gelas berisi air, tolong engkau pegang dengan kedua tanganmu agar tak tumpah".
Pemuda: "Baiklah..."

Kusir tersebut membawa pemuda itu berkeliling kota baghdad yang gemerlap, kota 1001 malam yang sangat mengesankan, kota ilmu pengetahuan yang selalu ingin dikunjungi setiap penuntut ilmu.

Akhirnya mereka sampai diperbatasan kota.
Kusir: "Bagaimana pendapatmu tentang kota baghdad? Indah dan ramai sekali bukan...?"
Pemuda: "Bagaimana aku bisa melihat sedangkan mataku tertuju pada gelas yang aku pegangi. Aku sama sekali tak sempat melihat keluar untuk menyaksikan indahnya kota baghdad!"
Kusir: "Itulah perumpamaan zuhud, walaupun kau tahu gemerlapnya dunia namun kau tetap memfokuskan segalanya kepada Allah semata"

Pemuda tersebut terkejut dengan perkataan sang kusir, ternyata pembantu rumah Hasan Al-Bashri saja sudah dapat memberikan apa yang dia cari tentang hakikat zuhud yang sebenarnya. Dia mulai menitikkan air mata karena kesombongannya, karena segala sangkaan buruk kepada sang ulama.

Bahwa ternyata Zuhud bukan paksaan dan bukan pula karena kepepet. Zuhud adalah pilihan hidup.
HIDUP DENGAN LAYAK DAN TETAP BERSYUKUR...
-Cerita dari Salman-
:-) :-) :-) :-) :-) :-) :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar