Suatu hari seorang wanita berniat untuk pergi berlibur ke luar kota. Wanita itu pergi seorang diri dengan segala perbekalan dan tentu saja tiket pesawat yang telah dibelinya jauh-jauh hari. Ketika tiba di bandara, wanita tersebut membeli sebuah majalah dan sebungkus biskuit untuk menemaninya saat keberangkatan tertunda beberapa menit.
Wanita itu duduk menunggu keberangkatan di sebuah kursi yang telah duduk pula seorang laki-laki paruh baya, mungkin dia pun sedang menunggu keberangkatan pesawat seperti halnya yang dilakukan wanita itu. "ah, biarkan saja dia. apa peduliku?" pikir si wanita itu.
Ketika biskuit itu bersisa satu potong, wanita itu membiarkannya, dalam hatinya wanita itu bergumam " apa yang akan dilakukan laki-laki menyebalkan ini terhadap satu potong biskuitku?"
Sungguh tak diduga, ternyata laki-laki itu mengambil sepotong biskuit yang tersisa dan membelahnya menjadi dua bagian, sambil tersenyum tanpa dosa dia berkata: "Ini, kita bagi dua saja..."
Kekesalan wanita itu pun memuncak, tanpa berkata sepatah kata dan dengan wajah yang marah wanita itu pergi meninggalkan laki-laki menyebalkan itu.
Singkat cerita, pesawat pun berangkat.
Wanita itu duduk di kursi paling depan agar tidak terganggu.
Agar tidak terlalu membosankan, dia mengeluarkan kembali majalah yang dibelinya di bandara. ketika meraba-raba tasnya, alangkah terkejutnya wanita tersebut mendapati biskuit yang dibelinya di bandara tadi ternyata masih terbungkus rapi.
Wanita itu berfikir "berarti biskuit yang kumakan dengan laki-laki tadi adalah biskuitnya???"
Wanita itu menyesal bukan kepalang, karena mungkin saja dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan laki-laki itu dan meminta maaf kepadanya.
"Seandaikan saja aku bertemu dia lagi, mungkin aku tidak akan sanggup menampakkan wajahku karena malu." fikirnya.
Oh, malangnya manusia!
Selalu menyangka apa yang dimilikinya adalah mutlak kepunyaannya.
Padahal semua adalah titipan Allah yang suatu hari nanti akan dimintai pertanggungjawabannya.
Lantas apakah kita tidak merasa menyesal dan malu bahwa suatu saat kita akan menghadap Sang pemilik segala sesuatu, apa yang akan kita katakan kepada Allah??
Jika yang dilempar adalah gepokan uang, dia tidak akan mencari tahu siapa yang melemparkan uang itu, yang penting adalah jumlah uang yang dilemparkan.
Namun jika yang dilemparkan adalah batu, maka dia akan mencari tahu dan mencaci maki orang yang melemparkan batu tersebut tanpa memeriksa batu yang dilemparkan kepadanya.
Sehingga sedikit sekali rasa syukur itu.
Padahal hingga saat ini, kita masih diberikan anugerah mata, lidah dan telinga dan sebagainya untuk memperhatikan pesan Allah "Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
(QS. Ar-Rahman)
Yaa Allah, Jadikan kami hamba yang selalu bersyukur baik dalam lapang maupun sempit.
Engkau telah memberi kami banyak pelajaran, salah satunya adalah kisah Bai Fang Li di http://yanoutofthebox.blogspot.com/2011/06/yang-istimewa-pastilah-berbeda.html

Kisah Sepotong Biskuit Di Bandara saya pernah baca kisahnya, tapi lupa di buku atau di Majalah apa ya? pokoknya sama banget dengan yang saya baca.
BalasHapusjadi kalau bisa beri asal sumbernya, akh. jika dari tulisan orang.
sepakat sm kg dahlan.. nia juga udh pernah baca kang dan memang meninspirasi... jazakallah khair kang yan...
BalasHapuspernah2....
BalasHapuscerita terkenal banget. saya juga dapetnya pas training di Bandung, cuma saya ga tau dari siapa dan lupa pula trainer yang nyampein ini :D
BalasHapusga apa2 deh, lain kali diinget2, biar bisa dicantumin sumbernya.
bedanya cuma hikmah yang dipetik.
kalo trainer biasanya tentang hubungan orang dengan orang. saya sengaja mengaitkannya dengan syukur :-)
semoga bermanfaat.
walau sudah di terangkan waktu itu tentang cerita ini, tpi entah mengapa gak bosen bacanya, malah jadi pengingat bagi diri..
BalasHapusayo kang Yan lanjutkan tulisan2mu ^^
jazakallah
bagus kang,,
BalasHapus